Pertumbuhan ekonomi Papua Barat di tahun 2009 yang yang diukur dari kenaikkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), mengalami peningkatan sebesar 6,26 persen dibanding 2008. Sebagian sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positi, dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yaitu sebesar 15,98 persen dan terendah di Sektor Pertambangan dan Penggalian minus 0,44 persen.
Hal tersebut sesuai Press Release BPS Papua Barat dengan perwakilan SKPD serta wartawan media cetak di Hotel Aston, Sowi Gunung, Rabu (10/2).
Sesuai paparannya, Kepala BPS Papua Barat, Ir. Tanda Sirait, M.M menyebut, bahwa besaran Produk Domestik Regional Bruto Papua Barat di tahun 2009 atas dasar harga berlaku mencapai Rp.14.547,73 milyar, sedangkan atas dasar harga konstan Rp. 6.758,20 milyar.
Sedangkan secara triwulan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan IV / 2009, mengalami peningkatan sebesar 1,75 persen dibandingkan dengan triwulan III / 2009, dan bila dibandingkan dengan triwulan IV / 2008, tumbuh sebesar 4,22 persen.
Menurut Sirait, data resmi dari statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB tanpa migas di tahun 2009 mencapai 7,36 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB dengan migas yang besarnya 6,26 persen.
Sementara di sisi penggunaan, PDRB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 69,02 persen, konsumsi lembaga swasta nirlaba 0,73 persen, konsumsi pemerintah 19,61 persen, pembentukkan modal tetap bruto atau investasi fisik 30,92 persen serta ekspor neto minus 22,98 persen.
Sirait juga menjelaskan, selama tahun 2009, hampir semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB mengalami pertumbuhan adn pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 15,98 persen, diikuti sektor konstruksi 13,16 persen, sektor industri pengolahan 11,31 persen, listrik, gas dan air bersih 8,91 persen, sektor jasa 6,82 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran 6,23 persen, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan 3,36 persen, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan 1,19 persen, serta sektor pertambangan dan penggalian minus 0,44 persen.
"Sementara pertumbuhan PDRB tanpa migas pada tahun 2009 mencapai 7,36 persen yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB dengan migas yang sebesar 6,26 persen," paparnya.
Di sisi lain, jelas Sirait, besarnya sumbangan dari masing - masing sektor dalam menciptakna laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2009, merupakan faktor yang cukup menentukan bagi lajunya pertumbuhan ekonomi. Sektor - sektor yang dinilai nominal nya besar dan laju pertumbuhannnya yang relatif tinggi, tambahnya, tentu akan menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi di Papua Barat.
Dalam Press Release, Sirait mengatakan, data yang disampaikan tersebut, setidaknya dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi pemerintah daerah di seluruh kabupaten dan kota di Papua Barat, dalam mengukur sejauh mana tingkat pertumbuhan ekonomi, serta sektor - sektor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di daerah masing - masing.
"Data ini adalah data resmi. Dan tentunya sangat valid untuk dijadikan acuan.Paling tidak, kami (BPS-red) berharap, seluruh pimpinan SKPD di setiap kabupaten dan kota, dapat mengetahui nominal atau seberapa besar persentase angka laju pertumbuhan ekonomi kita, sehingga arah dan kebijakan yang dibuat dapat lebih fokus dan terarah, khususnya dalam memajukan perekonomian kita," terang Sirait.
Saat ditanya terkait dengan metode apa yang digunakan pihaknya dalam mengakses seluruh data - data yang ada dilapangan, Sirait menjawab, pihaknya menggunakan metodologi sampling yang secara internasional, metode tersebut telah teruji kevalidannya. Selain itu, petugas - petugas yang ditempatkan dilapangan, adalah petugas yang telah memahami tupoksinya karena telah mengikuti serangkaian pelatihan pada saat rekruitmen.
"Error atau tingkat kesalahan bisa saja terjadi. Namun kesalahan itu, tentu dalam batas - batas yang masih terkoreksi," terangnya.
"sekali lagi, saya berharap, agar Press Release yang digelar setiap triwulan ini, setidaknya dapat memberi pemahaman secara lebih konprehensih, mengenai data - data terbaru dari kondisi perekonomian kita pertiwulan, sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi arah dan kebijakan ekonomi kita," tandanya. |